The First is Word
Kira-kira begitulah kalimat pembuka dalam kitab suci agama Kristen, Injil. Mengapa kata menjadi yang pertama dari segala hal penting di dunia ini?
Padahal, ada banyak perkara lain yang bisa saja menjadi perhatian utama manusia. Tapi mengapa justru kata yang menjadi basis, fundamen kehidupan manusia? Seberapa besar pengaruhnya dalam cara kita bertindak dan beraktivitas sehari-hari di dunia ini? Memang, tidak semua orang bekerja hanya dengan kata. Namun yang berbicara di sini bukan orang bodoh, dan bukan pula sembarang orang pintar — kalimat ini keluar dari firman Tuhan, dari kitab suci yang diyakini oleh miliaran orang di dunia. Coba bayangkan: miliaran manusia meyakini satu kalimat ini. Dan tentu, manusia tidak meyakini sesuatu tanpa alasan. Pasti ada makna filosofis yang tersimpan di dalam mantra keramat ini.
Kembali pada soal kata — aku tidak peduli apakah kau meyakini kebenaran Injil atau tidak. Tapi menurutku, ini penting. Coba kita buka kembali lembaran sejarah yang sudah lama kita tinggalkan. Di sana kita bisa menyaksikan bagaimana kaum sofis menjadi sekelompok manusia yang begitu tangguh dan berkuasa, hanya bermodalkan kata. Hanya dengan olah kata, dunia menjadi milik mereka. Mungkin sebagian dari kita tidak setuju dengan apa yang dilakukan kaum sofis — memanipulasi kata sedemikian rupa hingga mampu memutarbalikkan kebenaran. Namun Socrates pun melakukan hal serupa. Buktinya, sang filsuf mulia ini juga memainkan kata untuk meyakinkan dunia bahwa nihilisme kaum sofis adalah sebuah kekeliruan. Dengan satu untai kata yang begitu ampuh — "Kenalilah dirimu sendiri" — Socrates mampu merubuhkan kekuatan kaum sofis yang saat itu menjadi panutan hampir semua orang. Ingat, ini semua terjadi hanya dengan kata.
Masih belum percaya pada kekuatan kata? Mari kita tengok bagaimana Fir'aun menguasai Mesir pada masanya. Bukankah ia dengan begitu tegas menyatakan dirinya sebagai Tuhan? Ya, Tuhan. Untuk apa ia mengaku demikian, jika bukan agar setiap orang di masanya tunduk dan patuh kepadanya? Kekuatan kata, yang dirangkai sedemikian rupa, dapat menjadi kekuatan yang begitu dahsyat hingga mampu menggerakkan orang lain di luar dirinya. Namun, tak kalah hebat, Musa a.s. dengan argumentasinya — yang juga tak lain adalah rangkaian kata — mampu meruntuhkan kekuasaan Fir'aun. Ironisnya, kaumnya sendiri, bangsa Yahudi, juga dengan kata pula pada akhirnya mengingkari Musa a.s. Dan masih banyak lagi fakta sejarah semacam ini, yang jika diurai satu per satu, akan menghabiskan umur penulis sendiri. Begitulah kata — ia tidak pernah memihak pada benar atau salah.
Dalam sejarah peradaban manusia, tulisan baru terlacak kira-kira pada masa Hammurabi — entah zaman apa itu sesungguhnya. Namun yang pasti, kata sudah dianggap begitu penting hingga perlu dituliskan. Maka sangat masuk akal jika Imam Ali bin Abi Thalib a.s. berpesan agar kita selalu mencatat ilmu yang kita dapatkan. Sebab ingatan manusia sangat terbatas, sementara tulisan sebagai tali kekangnya akan tetap dapat diakses oleh orang-orang ratusan, bahkan ribuan tahun kemudian. Untuk apa? Jelas, untuk memberi gambaran tentang zaman apa dan apa yang terjadi di dalamnya. Atau, setidaknya, untuk menyatakan: aku pernah ada di dunia ini. Coba bayangkan bila sejarah manusia tidak pernah dituliskan. Adakah yang akan mengenal Fir'aun? Adakah yang akan mengenal kegagahan Achilles? Adakah yang bisa meniru salat Nabi saw.?
Maka dari itu, sudah tidak ada lagi alasan untuk berhenti menulis. Untuk meyakinkan orang di masa kini, dibutuhkan yang namanya hitam di atas putih — tulisan itu sendiri. Kalau tidak menulis, mana mungkin kita dikenal? Oh, atau mungkin saja kita tetap dikenal — aku ingat satu untaian kata yang berbunyi kira-kira begini: "kalau ingin dikenal, menulislah — atau ditulis." Maksudnya, kalau kita tak pernah menorehkan tinta lewat karya tulis, entah itu artikel, buku, atau puisi, maka jadilah pribadi yang begitu penting hingga layak dibicarakan dan dituliskan oleh orang lain. Contohnya Valentino Rossi — ia sendiri tak pernah menulis, tapi ia ditulis oleh banyak orang. Artinya, ada sosok bernama Rossi yang pernah hidup dan begitu penting dalam peradaban manusia hari ini. Seribu tahun ke depan, orang akan tetap tahu bahwa pernah ada Rossi, sang pembalap, yang hidupnya begini dan begitu. Eksistensi Rossi diakui oleh dunia.
Agar eksistensi kita juga diakui, maka jadilah penulis, atau jadilah orang yang layak ditulis. Tapi menurutku, lebih baik kita mulai dari yang paling sederhana dulu: menulis, merangkai kata — daripada menunggu untuk ditulis orang lain. Sebab belum tentu ada yang sudi menuliskan kita. Memangnya siapa kita?
Merangkai kata tidak harus menjadikan kita pujangga. Yang penting adalah berbuat, sebab hidup pada dasarnya adalah perbuatan. Ingatlah motto hidupku: Aku berkarya, maka aku ada. Jadikan ini motto hidupmu juga, ya. Oh iya — kalau ingin berevolusi, berkaryalah dulu.

Posting Komentar untuk "Your Word Your Existense"
Terimakasih sudah berkunjung, Silahkan meninggalkan komentar :)